0



I.      TUJUAN

*      Untuk membandingkan jumlah (populasi) bakteri dan aktomiset dari tanah rizosfer dan non rizosfer.

II.      TEORI

Bakteri yang hidup dalam tanah memegang peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman, sehubungan dengan kemampuanya dalam mengikat N2 dari udara dan mengubah ammonium menjadi nitrat. Termasuk ke dalam golongan ini yang berbentuk batang (bacil) yang mampu membentuk spora dan yang tidak membentuk spora. Spora pada bakteri bukan untuk alat berkembang biak melainkan alat untuk mempertahankan diri dari lingkungan yang tidak menyenangkan.
Aktinomycetes, yaitu kelompok bakteri yang tumbuh menyerupai fungi dengan membentuk hifa. Dan mempunyai ciri-ciri antara bakteri dan fungi. Aktinomiset mampu merombak berbagai substrat yang miskin N atau yang relative sulit didekomposisi. Karakteristik dari keberadaan organisme ini adalah memberikan bau tanah yang khas dan meningkatkan kualitas tanah dan dapat menghasilkan antibiotik.
Tanah dihuni oleh bernacam-macam mikroorganisme. Jumlah tiap gram mikroorganisme sangat bervariasi, ada yang hanya terdiri atas beberapa individu, akan tetapi ada pula yang jumlahnya mencapai jutaan per gram tanah. Penentuan jumlah dan aktivitas mikroorganisme dalam tanah mempunyai arti yang sangat penting. Jumlah total mikroorganisme yang terdapat dalam tanah digunakan sebagai indeks kesuburan tanah (fertility index) tanpa mempertimbangkan hal-hal lain. Semakin subur tanah mikroorganisme yang terkandung didalamnya akan semakin banyak. Karena di dalam tanah mikroorganisme merombak semua bahan organik yang terdapat dalam tanah sehingga tanah menjadi subur. 
Mikroorganisme tersebar luas di alam, tanpa ada batas dimana harus bertempat tinggal.  Mikroorganisme terdapat diudara, di tanah, pada tubuh manusia, pada makanan, bahkan ditempat-tempat kotor sekalipun.  Salah satu cara untuk menghitungnya yaitu dengan menggunakan metode Plat Pengenceran (Dilution Plate Methode).
Metode penghitungan tidak langsung yang banyak digunakan untuk menentukan populasi mikroba di dalam tanah diawali dengan pengenceran suspensi tanah, lalu menumbuhkan mikroba yang terdapat dalam sejumlah volume suspensi di dalam media plat agar. Jumlah koloni yang tumbuh menggambarkan jumlah mikroorganisme yang terdapat di dalam suspensi sehingga satuan dalam penghitungan ini adalah CFU (Colony Forming Unit). Dengan metode ini diasumsikan bahwa satu koloni berasal dari satu sel mikroba. Jumlah mikroba dalam satu gram mikroba tanah contoh (CFU/gr). Dihitung dengan membagi jumlah koloni yang tumbuh dengan faktor pengenceran. Metode ini hanya menghitung bakteri hidup, dan tidak selamanya satu koloni berasal dari satu sel bakteri. Selain itu, tidak semua mikroorganisme dapat tumbuh pada media yang dipakai.

III.      ALAT DAN BAHAN
*      Tanah rizosfer
*      Aquadest steril.
*      Pipet steril ukuran 1,0 dan 10 ml, tabung reaksi steril 18 ml, Petridish steril
*      Media agar nutrisi (3 g beef ekstract, 5 g pepton, 15 g agar, 1000 ml aquadest)
*      Media agar kaseinat (0,2 g sodium kaseinat, 0.5 g K2HPO4, 0,2 g MgSO4.7H2O, 0.01 g FeCl3, 15 g agar, 1000 ml aquadest).



IV.      CARA KERJA

1.      Menggunakan tanah rhizosfer dengan cara mengambil tanah yang menempel di perakaran dengan bantuan kuas. Tanah non rizosfer diambil dari tanah di luar perakaran.
2.      Suspensikan 1 gram tanah ke dalam 9 ml aquadest sehingga didapat suspensi tanah dengan pengenceran 10-1. Kocok selama 5 menit dan biarkan 15 detik.
3.      Dengan pipet steril , ambil 1 ml suspensi tanah 10-1 dan pindahkan ke tabung berisi 9 ml aquadest steril (10-2) kocok sampai merata
4.      Dengan cara yang sama dengan poin 2, lanjutkan sampai pengenceran 10-7
5.      Dari pengenceran 10-6 dan 10-7 ambil masing-masing 1/2 ml suspensi masukkan ke dalam petridish steril. Tuangkan 15 ml nutrient agar untuk penghitungan bakteri. Goyangkan petridish supaya suspensi dan media tercampur homogen.
6.      Inkubasikan 24 jam di dalam inkubator pada suhu 30OC
7.      Lakukan langkah 4 dan 6 untuk aktinomiset dengan menggunakan media agar kaseinat pada pengenceran 10-4 , 10-5
8.      Tentukan jenis bakteri/aktinomiset yang tumbuh berdasarkan karakteristik koloni.
9.      Hitung koloni bakteri/aktinomiset yang ada di permukaan atau sedikit di bawah permukaan media. Jumlah koloni yang memenuhi syarat adalah 30-300 CFU/plat agar.
10.  Jumlah bakteri/aktinomiset per gram tanah = rata-rata koloni
                                                                                 pengenceran

V.      HASIL PENGAMATAN
Jenis tanah
Bakteri berdasarkan Karakteristik koloni
Populasi Bakteri
(CPU/gr)
pengenceran
10-6
10-7
Rhizosfer (vegetasi liar)
Bulat,berwarna putih susu
0
8
Populasi total bakteri
8 x 107

Jenis tanah
Aktinomiset berdasarkan Karakteristik koloni
Populasi Aktinomiset
(CPU/gr)

pengenceran
10-4
10-5
Rhizosfer (vegetasi liar)
Bulat berwarna putih
9

2

Populasi total aktinomiset
11 x 104






      Jadi, jumlah bakteri/aktinomiset per gram tanah adalah :
1.      Bakteri
*      10-6 = 0 : 10-6 = 0 CFU/g.
*      10-7 = 8 : 10-7 = 8 x 107 CFU/g.
2.      Aktinomiset
*      10-4 = 9 x 10-4 = 9 x 104 CFU/g.
*      10-5 = 2 x 10-5 = 2 x 105 CFU/g.


I.      PEMBAHASAN

Mikroorganisme tersebar luas di alam, tanpa ada batas dimana harus bertempat tinggal. Mikroorganisme terdapat diudara, di tanah, pada tubuh manusia, pada makanan dan tempat-tempat yang mengandung sumber makanan bagi organisme itu.
 Perhitungan diatas dengan asumsi bahwa satu koloni berasal dari satu sel mikroorganisme. Sehingga pemahaman lebih lanjut pada penelitian berikutnya tidak menyimpang dari asumsi sebelumnya.
Koloni bakteri pada suspensi pengenceran kecil lebih banyak dibandingkan suspensi pengenceran tinggi. Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri yang optimal diantaranya adalah suhu, udara, pH, kelembaban.
Pada koloni bakteri yang disuspensikan ada jamur yang tumbuh pada media yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri, hal ini dapat disebabkan karena anti jamur pada media tidak bekerja dengan baik.
Metode perhitungan bakteri dengan menggunakan cara NPM dapat menentukan Jumlah koloni bakteri, dan seharusnya didapat pada suspensi pengenceran rendah (10-6) pada tanah rhizosfer (bakteri) jumlah bakteri lebih banyak daripada suspensi pengenceran tinggi (10-7). Tapi pada praktikum yang kami lakukan didapat hasil bahwa jumlah bakteri pada pengenceran 10-7 sama dengan 8 sedangkan pada pengenceran 10-6 tidak ada bakteri yang tumbuh. Hal ini terjadi mungkin karena pada saat memasukkan media agar pada petridish, agarnya masih dalam keadaan panas sehingga bakteri yang ada pada suspensi yang dimasukkan ke dalam petridish mati. Begitu juga pada tanah Rhizosfer (aktinomiset), semakin rendah pengenceran (10-5) semakin sedikit populasi aktinomiset yang diperoleh.
Kelemahan dari metode ini antara lain hanya bakteri hidup saja yang bisa dihitung.

II.      KESIMPULAN

1.      Jumlah koloni bakteri pada suspensi pengenceran rendah (10-6) lebih banyak daripada suspensi pengenceran tinggi (10-7).
2.      Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri adalah faktor lingkungan diantaranya; suhu, udara, pH, kelembaban dan lain-lain.
3.      Bakteri maupun aktinomiset lebih banyak populasinya pada pengenceran rendah, karena bakteri maupun aktinomiset umumnya lebih menyukai atau lebih banyak terdapat pada suspensi dengan pengenceran rendah. Karena semakin rendah pengenceran semakin sedikit kepekatan tanah yang diperoleh, artinya suspensi semakin encer.
4.      Metode ini mempunyai beberapa kelemahan antara lain hanya bakteri hidup saja yang bisa dihitung dan tidak semua mikroorganisme dapat tumbuh pada media yang dipakai, atau dengan perkataan lain tidak satu mediapun yang dapat menumbuhkan semua mikroorganisme.
0



I.      TUJUAN

*      Untuk menentukan jumlah dan jenis protozoa yang terdapat di dalam tanah dengan berbagai metode sederhana yaitu metode petridish dan metode migrasi pada agar.

II.      TEORI

Protozoa merupakan mikroorganisme uniseluler yang kegiatan hidupnya dilakukan protoplasma sel tersebut, di dalam sel terdapat nukleus, beberapa individu mempunyai makronukleus dan mikronukleus, nukleolus, mitokondria dan vakuola. Pengertian lainnya adalah mikroorganisme tanah yang seringkali digolongkan ke dalam mikrofauna tanah.
Protozoa ini teristimewa beradaptasi pada suatu bentuk kehidupan alami di bumi. Kemampuannya mereduksi jumlah-jumlah dan mengendalikan kegiatan-kegiatan golongan-golongan mikroorganisme lainnya di dalam tanah adalah amat terbatas. Beberapa protozoa hanya memangsa atas tipe-tipe bakteria tertentu, yang lainnya mengkonsumsi sesama protozoa, sedangkan yang lainnya lagi mengambil bagian kegiatan penting dalam pembusukan residu binatang dan tanaman.
Sejumlah besar spesies protozoa yang berbeda, meliputi flagellata, cilciata dan amoeba telah diisolasi dari tanah dan sedimen di berbagai tempat di dunia. Seringkali protista ini disebarkan oleh aliran air dan oleh angin dalam bentuk kista. Diduga terdapat 2 kista per meter kubik air. Spesies protozoa fotosintetik berperan sebagai produsen primer sedangkan spesies yang nonfotosintetik mencerna mikroba mikroskopis (prev) atau serpihan bahan organik. Spesies nonfotosintetik merupakan protista yang berperan penting dalam mineralisasi bahan organik dengan cara melepaskan nutrisi dan juga berperan dalam mendorong pertumbuhan mikroorganisme dan tanaman melalui metabolit yang dilepaskan.
Stadium vegetative atau stadium trofik protozoa yang hidup bebas terdapat dalam semua lingkungan akuatik, pasir, tanah dan bahan organik yang membusuk. Kebanyakan protozoa mempunyai temperature optimum untuk tumbuh antara 16 sampai 250 C, dengan maksimumnya 36 sampai 400 C. Beberapa protozoa dapat mengimbangi kisaran pH yang luas, misalnya dari 3,0 sampai 9,0. Akan tetapi, bagi sebagian besar protozoa, pH optimum bagi kegiatan metabolisme yang maksimum berkisar antara 6,0 sampai 8,0.        
Metode-metode yang sederhana dapat dipakai untuk menduga biodiversitas protozoa di dalam tanah. Untuk menentukan jumlah dan jenis protozoa di dalam tanah lembab dapat dengan menggunakan metode sederhana yaitu metode petridish dan metode migrasi agar. Jika memungkinkan, beberapa metode dilakukan secara bersamaan. Protozoa harus diperiksa segera setelah mengambil sampel dan tidak dibuat dalam sampel yang diawetkan.
Protozoa adalah mikroorganisme tanah yang seringkali digolongkan kedalam mikrofauna tanah. Protozoa dari kelas flagellata, ciliata dan amoeba telah diisolasi dari tanah dan sedimen di berbagai tempat di dunia. Protista ini disebarkan oleh aliran air dan angin dalam bentuk kista. Diduga terdapat dua kista per meter kubik air. Spesies protozoa fotosintetik berperan sebagai produsen primer sedangkan spesies yang nonfotosintetik mencerna mikroba mikroskopis (prey) atau serpihan bahan organik. Spesies nonfotosintetik merupakan protista yang berperan penting dalam mineralisasi bahan organik dengan cara melepaskan nutrisi dan juga berperan dalam mendorong pertumbuhan mikroorganisme dan tanaman melalui metabolit yang dilepaskan. Metode yang sederhana dapat dipakai untuk menduga biodiversitas protozoa di dalam tanah. Protozoa harus diperiksa segera setelah pengambilan sampel dan tidak dibuat dalam sampel yang diawetkan.
Beberapa protozoa tanah berukuran kecil, khususnya amoeba dan flagellata, dapat diisolasi pada permukaan agar. Protozoa ini mengkonsumsi bakteri, berkembang biak dan bermigrasi pada selapis air (film) di atas permukaan agar. Untuk organisme tanah, sebaiknya digunakan goresan bakteri tanah (misalnya E. coli) di atas media agar tanpa nutrisi (water agar, agar air).

III.      ALAT DAN BAHAN
*      Tanah
*      Bakteri tanah E. Coli.
*      Media agar air (1000 ml akuades, 15 g agar).
*      Petridish
*      Selotip

IV.      CARA KERJA

  Metode Migrasi pada Agar
 
1.      Membuat plat agar atau water agar (WA).
2.      Membuat tiga goresan E. Coli di atas plav agar.
3.      Inkubasi sampai bakteri tumbuh dengan baik (24 jam).
4.      Setelah 24 jam maka Membuat suspensi tanah dengan pengenceran 10-1
5.      Meneteskan suspensi bakteri di antara goresan E. Coli.
6.      Petridish direkat dengan selotip untuk mencegah hilangnya kelembaban.
7.      Inkubasikan selama 1 minggu.
8.      Protozoa dapat dicuci dari permukaan agar dengan air steril dan diperiksa di bawah mikroskop.





III.      HASIL PENGAMATAN
Gambar bakteri dalam petridish








Percobaan ini dilakukan dengan ulangan dua kali. Untuk percobaan pertama digunakan media agar nutrisi untuk menumbuhkan E.coli, dan yang kedua juga menggunakan NA. Perlakuan pertama tidak dapat menumbuhkan E.coli sehingga protozoa juga tidak tumbuh, dan tidak ada hasil yang didapatkan. Pada perlakuan kedua E.coli dapat tumbuh dengan baik akan tetapi setelah dilakukan pengamatan di mikroskop juga tidak ada hasil yang didapatkan (tidak ada protozoa yang tumbuh), sehingga saya tidak mendapatkan gambar protozoa, jenis serta jumlahnya.

IV.      PEMBAHASAN

Dari hasil pengamatan bakteri E.Coli dapat tumbuh dengan baik pada media agar nutrisi. Setelah ditetesi suspensi tanah lalu diinkubasi selama 1 minggu seharusnya protozoa dari suspensi tanah dapat tumbuh di media dengan E.Coli tadi tapi pada percobaan kami setelah dilihat di mikroskop kami tidak melihat adanya protozoa, hal ini mungkin karena protozoa tidak dapat tumbuh pada media tersebut atau mungkin karena kami tidak mendapatkan koloni protozoa pada saat pengambilan preparat. Jika protozoa dapat dilihat di mikroskop maka pada protozoa tersebut terdapat flagel yang berguna untuk mempertahankan hidupnya. Bentuk maupun jenis protozoa dapat diidentifikasikan setelah diamati dibawah mikroskop. Ada banyak protozoa yang terdapat didalam tanah. Protozoa bisa dikatakan sebagai musuh bakteri karena protozoa mengkonsumsi bakteri.
Pada percobaan ekstraksi protozoa dari tanah dengan metode migrasi pada agar kita membuat goresan bakteri yaitu E coli pada Nutrisi Agar. Selain itu kita pula meneteskan suspensi tanah pada sisi lain plat agar. Pada cara penggoresan untuk mencegah kontaminasi perlu di lakukan berbagai tindakan. Pertama, jika mengambil agar yang telah cair dari penangas air, hapus bagian luar tabung dengan lap kain. Jika hal ini tidak di lakukan maka air akan jatuh ke dalam cawan dan membawa kontaminan. Selanjutnya, jika membuka tutup kapas untuk menuangkan agar, lewatkan mulut tabung reaksi di atas api untuk membunuh mikroba yang ada di permukaanya.
Tujuan utama dari penggoresan cawan adalah untuk menghasilkan koloni- koloni bakteri yang terpisah dengan baik  dari suspensi sel pekat. Selama inokulasi kumpulan- kumpulan sel pada permulaan penggoresan akan membentuk koloni yang berjalan bersamaan, tetapi setelah goresan berlangsung lebih jauh maka sel- sel yang tertinggal dalam tetesan- tetesan yang terbawa oleh jarum makin sedikit. Jika sel- sel yang makin sedikit itu tumbuh pada permukaan media maka akan di hasilkan koloni- koloni yang terpisah dengan baik.

V.      KESIMPULAN

1.      Protozoa ini mengonsumsi bakteri, berkembang biak dan bermigrasi pada selapis air (film) di atas permukaan agar.  Film ini akan terbentuk tempat yang jauh dari tempat inokulasi awal. 
2.      Protozoa memiliki berbagai macam spesies yang berbeda, diantaranya; flagellata, cilciata dan amoeba.
3.      Beberapa protozoa tanah berukuran kecil, khususnya amoeba dan flagelata, dan dapat diisolasi pada permukaan agar.
4.      Untuk organisme tanah, sebaiknya digunakan goresan tanah di atas media selain nutrient agar.

0


A.   JUDUL
Praktikum Respirasi Serangga

B. TUJUAN
Mengetahui kecepatan respirasi pada hewan (serangga) dan pada tumbuhan (kecambah)

C. DASAR TEORI
Respirasi adalah suatu proses pengambilan O2 untuk memecah senyawa-senyawa organik menjadi CO2, H2O dan energi. Namun demikian respirasi pada hakikatnya adalah reaksi redoks, dimana substrat dioksidasi menjadi CO2 sedangkan O2 yang diserap sebagai oksidator mengalami reduksi menjadi H2O. Yang disebut substrat respirasi adalah setiap senyawa organik yang dioksidasikan dalam respirasi, atau senyawa-senyawa yang terdapat dalam sel tumbuhan yang secara relatif banyak jumlahnya dan biasanya direspirasikan menjadi CO2 dan air. Sedangkan metabolit respirasi adalah intermediat-intermediat yang terbentuk dalam reaksi-reaksi respirasi.Karbohidrat merupakan substrat respirasi utama yang terdapat dalam sel tumbuhan tinggi. Terdapat beberapa substrat respirasi yang penting lainnya diantaranya adalah beberapa jenis gula seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa; pati; asam organik; dan protein (digunakan pada keadaan & spesies tertentu). Secara umum, respirasi karbohidrat dapat dituliskan sebagai berikut: C6H12O6 + O2 6CO2 + H2O + energi

Laju respirasi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
Ketersediaan substrat. Tersedianya substrat pada tanaman merupakan hal yang penting dalam melakukan respirasi. Tumbuhan dengan kandungan substrat yang rendah akan melakukan respirasi dengan laju yang rendah pula. Demikian sebliknya bila substrat yang tersedia cukup banyak maka laju respirasi akan meningkat.Ketersediaan Oksigen. Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya pengaruh tersebut berbeda bagi masing-masing spesies dan bahkan berbeda antara organ pada tumbuhan yang sama. Fluktuasi normal kandungan oksigen di udara tidak banyak mempengaruhi laju respirasi, karena jumlah oksigen yang dibutuhkan tumbuhan untuk berrespirasi jauh lebih rendah dari oksigen yang tersedia di udara.

Suhu. Pengaruh faktor suhu bagi laju respirasi tumbuhan sangat terkait dengan faktor Q10, dimana umumnya laju reaksi respirasi akan meningkat untuk setiap kenaikan suhu sebesar 10oC, namun hal ini tergantung pada masing-masing spesies.Tipe dan umur tumbuhan. Masing-masing spesies tumbuhan memiliki perbedaan metabolsme, dengan demikian kebutuhan tumbuhan untuk berespirasi akan berbeda pada masing-masing spesies. Tumbuhan muda menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi dibanding tumbuhan yang tua. Demikian pula pada organ tumbuhan yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Serangga mempunyai alat pernapasan khusus berupa system trachea yang berfungsi untuk mengengkut dan mngedarkan O2 ke seluruh tubuh serta mengangkut dan mengeluarkan CO2 dari tubuh. Trschea memanjang dan bercabang-cabang menjadi saluran hawa halus yang masuk ke seluruh jaringan tubuh oleh karena itu, pengangkutan O2 dan CO2 dalam system ini tidak membutuhkan bantuan sitem transportasi atau darah.
Udara masuk dan keluar melalui stigma, yaitu lubang kecil yang terdapat di kanan-kiri tubuhnya. Selanjutnya dari stigama, udara masuk ke pembuluh trachea yang memanjang dan sebagian ke kantung hawa.

Pada serangga bertubuh besar terjadinya pengeluaran gas sisa pernafasan terjadi karena adanya pengaruh kontraksi otot-otot tubuh yang bergerak secara teratur.

D. ALAT DAN BAHAN
Alat:
¤ 1 buah neraca
¤ 1 buah stop watch
¤ 2 buah respirometer
¤ 1 buah plastisin
¤ Eosin secukupnya
¤ Kapas
¤ 1 buah pipet
1.   
Bahan
¤ 1 ekor jangkrik
¤ 1 ekor belalang
¤ 2 gram kecambah kedelai
¤ 2 gram kecambah hijau

E. CARA KERJA
1. membersihkan respirometer dengan hati-hati, lalu meletakkannya dalam keadaan  terbuka.
2. Menimbang bahan-bahan yang dibutuhkan dengan menggunakan neraca.
3. Membungkus NaOH kristal dengan menggunakan kapas dan memasukannya dalam respirometer.
4. memasukan 1 ekor jangkrik dan menutup respirometer dengan memberi plastisin pada sambungan penutupnya untuk menghindari udara keluar atau masuk ke respirometer.
5. menetesi ujung respirometer yang berskala dengan eosin secukupnya dengan menggunakan alat suntik (hati-hati jangan sampai eosin terserap keluar dari pipa berskala tersebut.
6. mengmati pergerakan eosin setiap menitnya pada berskala tersebut.
7. mencatat hasilnya dalam tabel pengamatan.
8. Setelah eosin masuk dalam tabung respirometer, bersihkan respirometer.
9. Menulangi cara kerja diatas, dengan bahan belalang, kecambah kedelai dan kecambah hijau.


F. TABEL PENGAMATAN


G. PEMBAHASAN
Berdasarkan percobaan, kecepatan respirasi belalang yang memiliki massa 2 gram adalah
Oksigen yang diperlukan
Berdasarkan percobaan, kecepatan respirasi jangkrik yang memiliki massa 1 gram adalah
Oksigen yang diperlukan
Berdasarkan percobaan, kecepatan respirasi kecambah kedelai yang memiliki massa 2 gram adalah
Oksigen yang diperlukan
Berdasarkan percobaan, kecepatan respirasi kecambah hijau
yang memiliki massa adalah 2 gram
Oksigen yang diperlukan

H. KESIMPULAN
NaOH berfungsi sebagai peningkat suhu agar respirasi terpicu menjadi cepat. Selain itu NaOH juga berfungsi sebagai pengikat CO2
Respirasi dipengaruhi oleh massa tubuh, suhu dan jenis hewan/tumbuhan.
0
Download / pdf / 207 Kb

Soal-soal:
  • Biologi Sel dan Molekuler
  • Mikrobiologi
  • Bioteknologi
  • Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan
  • Anatomi dan Fisiologi Hewan
  • Genetika
  • Ekologi
  • Biosistematik
0

Hanya sekitar 1 dari 40 tiram yang kemungkinan berisi mutiara dan jumlah tiram yang diketemukan dari tahun ke tahun semakin menurun.

Mutiara sebenarnya terbentuk akibat respon dari tiram untuk menolak kesakitan oleh akibat masuknya benda asing kedalam tubuhnya. Mutiara dari laut dapat diketemukan pada tiram, sedangkan mutiara dari perairan tawar pada kerang atau kijing.Pada dasarnya mutiara perairan laut berhubungan erat dengan tiram dan genus pinctada dan pada perairan tawar pada genus Onio. Banyak jenis tiram yang dapat memprodoksi benda keras dalam tubuhnya,tetapi sedikit yang dapat digolongkan sebagai batu permata mutiara. Pada dua cangkang (kulit tiram) tiram jenis Pinctada terdapat bermacam-macam lapisan.Lapisan induk mutiara,berada pada cangkang bagian dalam.Jika terdapat partikel benda asing yang menyakitkan misalnya sebutir pasir maka organ tubuh tiram yang disebut mantel akan mulai melapisi dengan "nacre" pelindung (lapisan induk mutiara) ke sekelilingnya,hasilnya mungkin akan menjadisebutir mutiara.Jika partikel dapat dilapisi oleh mantel secara menyeluruh,hasil mutiara kelak akan berbentuk bundar bagus.
0

Alergi makanan merupakan reaksi sistem kekebalan yang terjadi segera setelah makan makanan tertentu. Pada orang yang alergi, sistem kekebalan tubuh keliru mengenali protein makanan sebagai zat yang berbahaya. Jadi jangan heran bila kebanyakan makanan yang memicu alergi adalah makanan yang tinggi protein.

Bahkan sejumlah kecil dari penyebab alergi makanan dapat memicu gejala seperti masalah pencernaan, gatal-gatal atau bengkak saluran udara. Pada beberapa orang, alergi makanan juga dapat menyebabkan gejala parah atau bahkan reaksi yang mengancam nyawa yang dikenal sebagai anafilaksis, seperti dilansir MayoClinic, Rabu (12/10/2011).

Tidak semua makanan dapat menyebabkan alergi. Berdasarkan US Food Allergy, 7 makanan ini merupakan 90 persen dari makanan penyebab alergi, yaitu:

1. Susu sapi
Alergi susu sapi paling umum terjadi pada anak-anak, alergi susu mempengaruhi 2-3 persen dari bayi di negara maju. 90 persen dari anak-anak ini biasanya akan sembuh dari alergi pada saat mencapai usia 4 tahun. Dan orang paling banyak alergi adalah pada susu sapi dibandingkan makanan/minuman lainnya.

2. Telur
Telur juga merupakan makanan penyebab alergi yang sangat umum pada anak-anak dan biasanya berlanjut hingga dewasa. Sebagian besar anak akan sembuh dari alergi ini pada usia 5 tahun. Sesuatu yang harus diperhatikan jika Anda atau anak Anda memiliki alergi telur adalah waspada pada beberapa vaksin, termasuk vaksin flu, karena mengandung protein telur yang dapat memicu reaksi alergi yang serius pada individu.

3. Kacang tanah
Protein kacang sangat mahir memprovokasi sistem kekebalan tubuh menjadi serangan mematikan pada tubuh dan memang alergi kacang merupakan penyebab utama kematian terkait makanan. Namun, kematian ini masih cukup langka.

4. Kacang pohon
Alergi kacang pohon lebih banyak terjadi pada anak-anak ketimbang dewasa. Kacang pohon mencakup sebagian besar jenis kacang yang sering dimakan, antara lain almond, walnut, kacang mede, kacang Brazil, kemiri, kacang macadamia, dan lain-lain.

5. Gandum
Alergi gandum cukup umum pada orang dewasa, setidaknya sekitar seperempat dari semua alergi makanan. Banyak anak juga mengalami alergi gandum. Ada masalah terkait yang disebut penyakit celiac, di mana sistem kekebalan tubuh menyerang usus kecil setiap kali protein gluten (pada gandum) tertelan.

Gluten hadir dalam jumlah besar pada gandum, rye dan barley. Untuk orang dengan penyakit celiac atau alergi gandum, diet bebas gandum sangatlah penting.

6. Kedelai
Alergi kedelai lebih sering terjadi pada anak-anak. Anak yang mengalami alergi kedelai biasanya dimulai ketika minum susu formula yang banyak mengandung protein kedelai. Meski kebanyakan anak akan sembuh dari alergi kedelai saat usia 3 tahun, tapi alergi kedelai bisa bertahan hingga dewasa. Banyak makanan yang mengandung kedelai seperti kecap, tempe, tahu, roti atau tepung kedelai.

7. Ikan
Alergi makanan laut seperti ikan dan kerang adalah penyebab paling umum dari alergi makanan. Makanan laut dapat menjadi alergen yang kuat pada beberapa orang, bahkan menyebabkan reaksi yang mengancam jiwa. Alergi makanan laut biasanya akan berlangsung seumur hidup.
0

Black-knobbed Map Turtle adalah salah satu spesies kura-kura dari Amerika Serikat. Spesies ini menghabiskan sebagian besar hari berjemur di pohon-pohon tumbang dan dapat melompat dengan cepat ke dalam air ketika ia merasa terancam. Mereka mencari perlindungan di bagian bawah sungai dan di antara cabang-cabang pohon yang tumbang.