Showing posts with label praktikum. Show all posts
Showing posts with label praktikum. Show all posts
0



I.      TUJUAN

*      Untuk membandingkan populasi jamur di tanah dengan berbagai tingkat kandungan bahan organik.

II.      TEORI

Fungi (jamur adalah sel mikroskopis yang tumbuh memanjang seperti benang yang dikenal dengan hypa. Diameter hypa hanya beberapa µm, tetapi dapat tumbuh memanjang hingga mencapai beberapa meter. Beberapa fungi hanya bersel satu seperti ragi. Hypa yang tumbuh membentuk masa disebut mycelium atau tebal menyerupai kawat dan disebut sebagai rhizomorphs yang tampak seperti akar.
Fungi terdiri dari kapang dan khamir. Fungi atau cendawan adalah organisme heterotrofik, mereka memerlukan senyawa organik untuk nutrisinya. Bila mereka hidup dari benda organik mati yang terlarut mereka di sebut saprofit. Saprofit menghancurkan sisa- sisa tumbuhan dan hewan yang kompleks, menguraikanya menjadi zat- zat kimia yang lebih sederhana yang kemudian di kembalikan ke dalam tanah dan selanjutnya meningkatkan kesuburanya. Sebaliknya mereka juga dapat merugikan kita bilamana mereka membusukkan kayu, tekstil, makanan dan bahan- bahan lain. Fungi atau kapang adalah mempunyai dinding sel yang kaku dan berbentuk uniseluler atau multiseluler sebagian mempunyai ukuran yang mikroskopis sedangkan yang lainnya mempunyai ukuran yang cukup besar  seperti jamur merang. Tidak seperti algae, fungi tidak mengandung klorofil sehingga tidak berfotosintesis. Fungi tidak menelan makanannya tetapi harus berupa nurient yang larut  agar dapat diabsorpsi. Fungi yang multiseluler menghasilkan filamen yaitu struktur mikroskopis seperti benang yang disebut hifa. Kumpulan hifa disebut miselium. Fungi uniseluler yang terkenal adalah ragi (yeast), dengan berbagai bentuk seperti bulat hingga oval, elips hingga ke bentuk filament.  Fungi sudah tidak asing lagi bila kita lihat misalnya warna biru dan hijau pada buah jeruk dan keju warna putih seperti bulu pada roti, jamur di lapangan dan hutan.
Fungi memperbanyak diri dengan cara aseksual dan seksual. Perbanyakan diri dengan cara aseksual dilakukan dengan membentuk spora, berkuntum atau fragmen. Spora-spora tersebut terlepas melalui konstriksi. Berdasarkan kedudukanya spora yang terbentuk di ujung hifa disebut konidiospora, sedangkan yang terbentuk di sporangium disebut sporangiospora. Perbanyakan diri aseksual pada fungi berkuntum tidak dilakukan dengan membentuk spora, tetapi dengan membentuk tunas. Perbanyakan diri aseksual dapat juga dilakukan.    
Berdasarkan sumber perolehan energinya, jamur tanah dikelompokkan menjadi 3 group fungsional:
1.      Pengurai
2.      Mutualist
3.      Patogen
Faktor lingkungan seperti pH tanah, pupuk anorganik, kandungan bahan organic, dan kelembaban tanah merupakan faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan fungi. Fungi terdapat pada semua jenis tanah yang bereaksi masam. Meski demikian, ada juga fungi yang berada pada tanah netral atau tanah alkalis. Pemberian pupuk anorganik dapat merubah populasi fungi di dalam tanah, contoh : pemupukan dengan garam ammonium. Dalam hal ini ammonium teroksidasi membentuk nitrat dan ion nitrogen yang mengakibatkan penurunana pH tanah.
Pengertian bahan organic tanah tidak sama dengan pengertian bahan organic  di dalam tanah. Bahan organic di dalam tanah tidak seluruhnya tercakup sebagai  bahan organic tanah (BOT).  Bahan organik yang berasal dari sisa tumbuhan dan sisa hewan yang belum terurai atau pengurainya belum sempurna disebut sebagai serasah atau bahan organik. Bahan organic yang terdapat di dalam tanah terutama berasal dari sisa-sisa jaringan tanaman yang umumnya mengandung karbohidrat dari bentuk monosakarida hingga polisakarida, lignin, dan senyawa-senyawa yang mengandung N  (proten, asam amino, purin dan pirimidin), lemak dan sejenisnya serta beberapa mineral. Penambahan bahan organic ke dalam tanah akan meningkatkan jumlah dan aktifitas bakteri tanah. Penambahan bahan organik tersebut tidak saja akan menambah sumber karbon dan energi bagi bakteri, tetapi juga akan memperbaiki lingkungan fisik tanah yang lebih nyaman bagi kehidupan bakteri.
Tanah, terutama yang banyak mengandung bahan organik adalah habitat yang baik untuk jamur. Di tanah dengan aerasi baik dan yang diolah, populasi jamur akan melebihi populasi mikroba lain. Jamur bukan penghuni tanah utama, tetapi biomassa jamur mendominasi biomassa mikroba tanah lain karena ukuran jamur lebih besar daripada mikroba lain dan memiliki jaringan miselium.
Perhitungan mikroba tidak langsung dengan metode plat pengenceran digunakan untuk menghitung populasi jamur tanah, namun metode ini kurang memuaskan karena tidak mampu membedakan koloni yang berasal dari spora dan hifa. Koloni yang berasal dari spora atau bentuk istirahat (dorman) lainnya mewakili jamur yang tidak aktif, sedangkan koloni yang berasal dari miselium berada dalam keadaan aktif bermetabolisme pada saat pengambilan contoh tanah.

III.      ALAT DAN BAHAN
*      Contoh tanah rhizosfer.
*      Pipet steril 1.0 ml dan 10ml, tabung reaksi steril 8 ml, petridish steril, gelas objek dan gelas penutup
*      Medium Potato Dextose Agar (PDA).
*      Larutan Streptomisin (300 mg streptomisin di dalam 100 ml air). Satu ml streptomisin  ditambahkan pada 100 ml media pada suhu 45-50oC.

IV.      CARA KERJA

1.      satu gram tanah dicampur dengan 9 ml akuades sehingga didapatkan suspensi tanah dengan pengenceran 10-1 dan kocok selama 5 menit. Tambahkan 1 ml suspensi 10-1 ke dalam 9 ml akuades (10-2).  Lakukan pengenceran sampai 10-7.
2.      Pindahkan masing-masing 1/2 ml dari pengenceran 10-3 & 10-4 ke dalam petridish steril yang berbeda.
3.      Tuangkan media PDA yang telah diberi antibiotik. Campurkan media dengan suspensi tanah dengan menggoyangkan petridish.
4.      Inkubasikan selama 3-7 hari, amati morfologi koloni yang meliputi warna, bentuk dan ukuran koloni. Tentukan jumlah koloni dari setiap bentuk koloni yang berbeda dan hitung populasi total.
5.      Ambil koloni jamur pindahkan ke gelas obyek dan amati morfologi miselium jamur yang ada.
6.      Pindahkan koloni ke plat agar atau agar miring PDA untuk mendapatkan biakan murni.

V.      HASIL PENGAMATAN

Kandungan Bahan Organik
Jenis Jamur berds.karakteristik koloni
Populasi Jamur
(CPU/gr)


10-3
10-4
  Rhizosfer
1. Tipis, putih susu, bulat.
39
38

Populasi total jamur
77 x 103

Jadi, jumlah jamur per gram tanah adalah :
- pengenceran 10-3 → 39 : 10-3 = 39 x 103
- pengenceran 10-4 → 38 : 10-4 = 38 x 104     

VI.      PEMBAHASAN

Pada percobaan penghitungan populasi jamur tanah dengan metode plat pengenceran. Untuk mengisolasi jamur tanah pengenceran yang digunakan adalah pengenceran 10-4 dan 10-5. Pengenceran ini dimaksudkan untuk agar partikel-partikel tanah tidak ikut. Pada penentuan populasi jamur tanah media agar yang digunakan adalah PDA yang telah diberi antibiotik. Prinsip dari isolasi mikroba adalah memisahkan suatu jenis mikroba dengan mikroba lain yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba. Hal ini dapat dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media padat, karena dalam media padat sel-sel mikroba akan membentuk suatu koloni sel yang tetap pada tempatnya. Media yang digunakan dalam isolasi ini harus sesuai dengan mikroorganisme yang akan kita ketahui populasinya. Karena kalau tidak sesuai agarnya maka mikroorganisme tidak akan tumbuh. Jika sel-sel tersebut tertangkap oleh media padat pada beberapa tepat yang terpisah, maka setiap sel atau kumpulan sel yang hidup akan berkembang menjadi suatu koloni yang terpisah, sehingga memudahkan pemisahan selanjutnya.
Bila digunakan media cair, sel-sel mikroba sulit dipisahkan secara individu karena terlalu kecil dan tidak tetap tinggal di tempatnya. Akan tetapi bila sel-sel tersebut di pisahkan dengan cara pengenceran, kemudian di tumbuhkan dalam media padat dan di biarkan membentuk koloni, maka sel-sel tersebut selanjutnya dapat diisolasi dalam tabung-tabung reaksi atau cawan petri yang terpisah.
Jumlah jamur dapat mendominasi didalam tanah dibandingkan dengan mikroorganisme yang lain. Disebabkan jamur mempunyai ukuran yang relatif besar. Namun, pada media yang digunakan dalam praktikum jamur tidak dapat tumbuh dengan optimum. Hal ini dapat disebabkan karena antibiotik untuk mencegah adanya mikroorganisme lain tumbuh pada media tidak bekerja secara mksimal sehingga ada bakteri dan mikroorganisme lain yang tumbuh pada media PDA ini. Sehingga pertumbuhan jamur pun terhambat.
Dari hasil penuangan suspensi tanah kedalam petridish didapat koloni jamur, dimana terdapat koloni yang berukuran kecil yang terpecah-pecah. Didalam koloni tersebut terdapat warna putih yang menunjukan jamur yang mempunyai hifa.

VII.      KESIMPULAN

1.      Metode plat agar sering digunakan untuk menghitung populasi jamur tanah walaupun metode ini kurang memuaskan.
2.      Metode ini tidak mampu membedakan asal koloni apakah dari spora atau hifa. Namun dapat diketahui koloni yang berkembang pada media berasal dari spora atau bentuk istirahat (dorman) lainnya mewakili jamur yang berada pada keadaan tidak aktif, sedangkan koloni yang berasal dari miselium secara metabolik aktif pada saat pengambilan contoh tanah.

0



I.      TUJUAN

*      Untuk membandingkan jumlah (populasi) bakteri dan aktomiset dari tanah rizosfer dan non rizosfer.

II.      TEORI

Bakteri yang hidup dalam tanah memegang peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman, sehubungan dengan kemampuanya dalam mengikat N2 dari udara dan mengubah ammonium menjadi nitrat. Termasuk ke dalam golongan ini yang berbentuk batang (bacil) yang mampu membentuk spora dan yang tidak membentuk spora. Spora pada bakteri bukan untuk alat berkembang biak melainkan alat untuk mempertahankan diri dari lingkungan yang tidak menyenangkan.
Aktinomycetes, yaitu kelompok bakteri yang tumbuh menyerupai fungi dengan membentuk hifa. Dan mempunyai ciri-ciri antara bakteri dan fungi. Aktinomiset mampu merombak berbagai substrat yang miskin N atau yang relative sulit didekomposisi. Karakteristik dari keberadaan organisme ini adalah memberikan bau tanah yang khas dan meningkatkan kualitas tanah dan dapat menghasilkan antibiotik.
Tanah dihuni oleh bernacam-macam mikroorganisme. Jumlah tiap gram mikroorganisme sangat bervariasi, ada yang hanya terdiri atas beberapa individu, akan tetapi ada pula yang jumlahnya mencapai jutaan per gram tanah. Penentuan jumlah dan aktivitas mikroorganisme dalam tanah mempunyai arti yang sangat penting. Jumlah total mikroorganisme yang terdapat dalam tanah digunakan sebagai indeks kesuburan tanah (fertility index) tanpa mempertimbangkan hal-hal lain. Semakin subur tanah mikroorganisme yang terkandung didalamnya akan semakin banyak. Karena di dalam tanah mikroorganisme merombak semua bahan organik yang terdapat dalam tanah sehingga tanah menjadi subur. 
Mikroorganisme tersebar luas di alam, tanpa ada batas dimana harus bertempat tinggal.  Mikroorganisme terdapat diudara, di tanah, pada tubuh manusia, pada makanan, bahkan ditempat-tempat kotor sekalipun.  Salah satu cara untuk menghitungnya yaitu dengan menggunakan metode Plat Pengenceran (Dilution Plate Methode).
Metode penghitungan tidak langsung yang banyak digunakan untuk menentukan populasi mikroba di dalam tanah diawali dengan pengenceran suspensi tanah, lalu menumbuhkan mikroba yang terdapat dalam sejumlah volume suspensi di dalam media plat agar. Jumlah koloni yang tumbuh menggambarkan jumlah mikroorganisme yang terdapat di dalam suspensi sehingga satuan dalam penghitungan ini adalah CFU (Colony Forming Unit). Dengan metode ini diasumsikan bahwa satu koloni berasal dari satu sel mikroba. Jumlah mikroba dalam satu gram mikroba tanah contoh (CFU/gr). Dihitung dengan membagi jumlah koloni yang tumbuh dengan faktor pengenceran. Metode ini hanya menghitung bakteri hidup, dan tidak selamanya satu koloni berasal dari satu sel bakteri. Selain itu, tidak semua mikroorganisme dapat tumbuh pada media yang dipakai.

III.      ALAT DAN BAHAN
*      Tanah rizosfer
*      Aquadest steril.
*      Pipet steril ukuran 1,0 dan 10 ml, tabung reaksi steril 18 ml, Petridish steril
*      Media agar nutrisi (3 g beef ekstract, 5 g pepton, 15 g agar, 1000 ml aquadest)
*      Media agar kaseinat (0,2 g sodium kaseinat, 0.5 g K2HPO4, 0,2 g MgSO4.7H2O, 0.01 g FeCl3, 15 g agar, 1000 ml aquadest).



IV.      CARA KERJA

1.      Menggunakan tanah rhizosfer dengan cara mengambil tanah yang menempel di perakaran dengan bantuan kuas. Tanah non rizosfer diambil dari tanah di luar perakaran.
2.      Suspensikan 1 gram tanah ke dalam 9 ml aquadest sehingga didapat suspensi tanah dengan pengenceran 10-1. Kocok selama 5 menit dan biarkan 15 detik.
3.      Dengan pipet steril , ambil 1 ml suspensi tanah 10-1 dan pindahkan ke tabung berisi 9 ml aquadest steril (10-2) kocok sampai merata
4.      Dengan cara yang sama dengan poin 2, lanjutkan sampai pengenceran 10-7
5.      Dari pengenceran 10-6 dan 10-7 ambil masing-masing 1/2 ml suspensi masukkan ke dalam petridish steril. Tuangkan 15 ml nutrient agar untuk penghitungan bakteri. Goyangkan petridish supaya suspensi dan media tercampur homogen.
6.      Inkubasikan 24 jam di dalam inkubator pada suhu 30OC
7.      Lakukan langkah 4 dan 6 untuk aktinomiset dengan menggunakan media agar kaseinat pada pengenceran 10-4 , 10-5
8.      Tentukan jenis bakteri/aktinomiset yang tumbuh berdasarkan karakteristik koloni.
9.      Hitung koloni bakteri/aktinomiset yang ada di permukaan atau sedikit di bawah permukaan media. Jumlah koloni yang memenuhi syarat adalah 30-300 CFU/plat agar.
10.  Jumlah bakteri/aktinomiset per gram tanah = rata-rata koloni
                                                                                 pengenceran

V.      HASIL PENGAMATAN
Jenis tanah
Bakteri berdasarkan Karakteristik koloni
Populasi Bakteri
(CPU/gr)
pengenceran
10-6
10-7
Rhizosfer (vegetasi liar)
Bulat,berwarna putih susu
0
8
Populasi total bakteri
8 x 107

Jenis tanah
Aktinomiset berdasarkan Karakteristik koloni
Populasi Aktinomiset
(CPU/gr)

pengenceran
10-4
10-5
Rhizosfer (vegetasi liar)
Bulat berwarna putih
9

2

Populasi total aktinomiset
11 x 104






      Jadi, jumlah bakteri/aktinomiset per gram tanah adalah :
1.      Bakteri
*      10-6 = 0 : 10-6 = 0 CFU/g.
*      10-7 = 8 : 10-7 = 8 x 107 CFU/g.
2.      Aktinomiset
*      10-4 = 9 x 10-4 = 9 x 104 CFU/g.
*      10-5 = 2 x 10-5 = 2 x 105 CFU/g.


I.      PEMBAHASAN

Mikroorganisme tersebar luas di alam, tanpa ada batas dimana harus bertempat tinggal. Mikroorganisme terdapat diudara, di tanah, pada tubuh manusia, pada makanan dan tempat-tempat yang mengandung sumber makanan bagi organisme itu.
 Perhitungan diatas dengan asumsi bahwa satu koloni berasal dari satu sel mikroorganisme. Sehingga pemahaman lebih lanjut pada penelitian berikutnya tidak menyimpang dari asumsi sebelumnya.
Koloni bakteri pada suspensi pengenceran kecil lebih banyak dibandingkan suspensi pengenceran tinggi. Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri yang optimal diantaranya adalah suhu, udara, pH, kelembaban.
Pada koloni bakteri yang disuspensikan ada jamur yang tumbuh pada media yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri, hal ini dapat disebabkan karena anti jamur pada media tidak bekerja dengan baik.
Metode perhitungan bakteri dengan menggunakan cara NPM dapat menentukan Jumlah koloni bakteri, dan seharusnya didapat pada suspensi pengenceran rendah (10-6) pada tanah rhizosfer (bakteri) jumlah bakteri lebih banyak daripada suspensi pengenceran tinggi (10-7). Tapi pada praktikum yang kami lakukan didapat hasil bahwa jumlah bakteri pada pengenceran 10-7 sama dengan 8 sedangkan pada pengenceran 10-6 tidak ada bakteri yang tumbuh. Hal ini terjadi mungkin karena pada saat memasukkan media agar pada petridish, agarnya masih dalam keadaan panas sehingga bakteri yang ada pada suspensi yang dimasukkan ke dalam petridish mati. Begitu juga pada tanah Rhizosfer (aktinomiset), semakin rendah pengenceran (10-5) semakin sedikit populasi aktinomiset yang diperoleh.
Kelemahan dari metode ini antara lain hanya bakteri hidup saja yang bisa dihitung.

II.      KESIMPULAN

1.      Jumlah koloni bakteri pada suspensi pengenceran rendah (10-6) lebih banyak daripada suspensi pengenceran tinggi (10-7).
2.      Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri adalah faktor lingkungan diantaranya; suhu, udara, pH, kelembaban dan lain-lain.
3.      Bakteri maupun aktinomiset lebih banyak populasinya pada pengenceran rendah, karena bakteri maupun aktinomiset umumnya lebih menyukai atau lebih banyak terdapat pada suspensi dengan pengenceran rendah. Karena semakin rendah pengenceran semakin sedikit kepekatan tanah yang diperoleh, artinya suspensi semakin encer.
4.      Metode ini mempunyai beberapa kelemahan antara lain hanya bakteri hidup saja yang bisa dihitung dan tidak semua mikroorganisme dapat tumbuh pada media yang dipakai, atau dengan perkataan lain tidak satu mediapun yang dapat menumbuhkan semua mikroorganisme.
0



I.      TUJUAN

*      Untuk menentukan jumlah dan jenis protozoa yang terdapat di dalam tanah dengan berbagai metode sederhana yaitu metode petridish dan metode migrasi pada agar.

II.      TEORI

Protozoa merupakan mikroorganisme uniseluler yang kegiatan hidupnya dilakukan protoplasma sel tersebut, di dalam sel terdapat nukleus, beberapa individu mempunyai makronukleus dan mikronukleus, nukleolus, mitokondria dan vakuola. Pengertian lainnya adalah mikroorganisme tanah yang seringkali digolongkan ke dalam mikrofauna tanah.
Protozoa ini teristimewa beradaptasi pada suatu bentuk kehidupan alami di bumi. Kemampuannya mereduksi jumlah-jumlah dan mengendalikan kegiatan-kegiatan golongan-golongan mikroorganisme lainnya di dalam tanah adalah amat terbatas. Beberapa protozoa hanya memangsa atas tipe-tipe bakteria tertentu, yang lainnya mengkonsumsi sesama protozoa, sedangkan yang lainnya lagi mengambil bagian kegiatan penting dalam pembusukan residu binatang dan tanaman.
Sejumlah besar spesies protozoa yang berbeda, meliputi flagellata, cilciata dan amoeba telah diisolasi dari tanah dan sedimen di berbagai tempat di dunia. Seringkali protista ini disebarkan oleh aliran air dan oleh angin dalam bentuk kista. Diduga terdapat 2 kista per meter kubik air. Spesies protozoa fotosintetik berperan sebagai produsen primer sedangkan spesies yang nonfotosintetik mencerna mikroba mikroskopis (prev) atau serpihan bahan organik. Spesies nonfotosintetik merupakan protista yang berperan penting dalam mineralisasi bahan organik dengan cara melepaskan nutrisi dan juga berperan dalam mendorong pertumbuhan mikroorganisme dan tanaman melalui metabolit yang dilepaskan.
Stadium vegetative atau stadium trofik protozoa yang hidup bebas terdapat dalam semua lingkungan akuatik, pasir, tanah dan bahan organik yang membusuk. Kebanyakan protozoa mempunyai temperature optimum untuk tumbuh antara 16 sampai 250 C, dengan maksimumnya 36 sampai 400 C. Beberapa protozoa dapat mengimbangi kisaran pH yang luas, misalnya dari 3,0 sampai 9,0. Akan tetapi, bagi sebagian besar protozoa, pH optimum bagi kegiatan metabolisme yang maksimum berkisar antara 6,0 sampai 8,0.        
Metode-metode yang sederhana dapat dipakai untuk menduga biodiversitas protozoa di dalam tanah. Untuk menentukan jumlah dan jenis protozoa di dalam tanah lembab dapat dengan menggunakan metode sederhana yaitu metode petridish dan metode migrasi agar. Jika memungkinkan, beberapa metode dilakukan secara bersamaan. Protozoa harus diperiksa segera setelah mengambil sampel dan tidak dibuat dalam sampel yang diawetkan.
Protozoa adalah mikroorganisme tanah yang seringkali digolongkan kedalam mikrofauna tanah. Protozoa dari kelas flagellata, ciliata dan amoeba telah diisolasi dari tanah dan sedimen di berbagai tempat di dunia. Protista ini disebarkan oleh aliran air dan angin dalam bentuk kista. Diduga terdapat dua kista per meter kubik air. Spesies protozoa fotosintetik berperan sebagai produsen primer sedangkan spesies yang nonfotosintetik mencerna mikroba mikroskopis (prey) atau serpihan bahan organik. Spesies nonfotosintetik merupakan protista yang berperan penting dalam mineralisasi bahan organik dengan cara melepaskan nutrisi dan juga berperan dalam mendorong pertumbuhan mikroorganisme dan tanaman melalui metabolit yang dilepaskan. Metode yang sederhana dapat dipakai untuk menduga biodiversitas protozoa di dalam tanah. Protozoa harus diperiksa segera setelah pengambilan sampel dan tidak dibuat dalam sampel yang diawetkan.
Beberapa protozoa tanah berukuran kecil, khususnya amoeba dan flagellata, dapat diisolasi pada permukaan agar. Protozoa ini mengkonsumsi bakteri, berkembang biak dan bermigrasi pada selapis air (film) di atas permukaan agar. Untuk organisme tanah, sebaiknya digunakan goresan bakteri tanah (misalnya E. coli) di atas media agar tanpa nutrisi (water agar, agar air).

III.      ALAT DAN BAHAN
*      Tanah
*      Bakteri tanah E. Coli.
*      Media agar air (1000 ml akuades, 15 g agar).
*      Petridish
*      Selotip

IV.      CARA KERJA

  Metode Migrasi pada Agar
 
1.      Membuat plat agar atau water agar (WA).
2.      Membuat tiga goresan E. Coli di atas plav agar.
3.      Inkubasi sampai bakteri tumbuh dengan baik (24 jam).
4.      Setelah 24 jam maka Membuat suspensi tanah dengan pengenceran 10-1
5.      Meneteskan suspensi bakteri di antara goresan E. Coli.
6.      Petridish direkat dengan selotip untuk mencegah hilangnya kelembaban.
7.      Inkubasikan selama 1 minggu.
8.      Protozoa dapat dicuci dari permukaan agar dengan air steril dan diperiksa di bawah mikroskop.





III.      HASIL PENGAMATAN
Gambar bakteri dalam petridish








Percobaan ini dilakukan dengan ulangan dua kali. Untuk percobaan pertama digunakan media agar nutrisi untuk menumbuhkan E.coli, dan yang kedua juga menggunakan NA. Perlakuan pertama tidak dapat menumbuhkan E.coli sehingga protozoa juga tidak tumbuh, dan tidak ada hasil yang didapatkan. Pada perlakuan kedua E.coli dapat tumbuh dengan baik akan tetapi setelah dilakukan pengamatan di mikroskop juga tidak ada hasil yang didapatkan (tidak ada protozoa yang tumbuh), sehingga saya tidak mendapatkan gambar protozoa, jenis serta jumlahnya.

IV.      PEMBAHASAN

Dari hasil pengamatan bakteri E.Coli dapat tumbuh dengan baik pada media agar nutrisi. Setelah ditetesi suspensi tanah lalu diinkubasi selama 1 minggu seharusnya protozoa dari suspensi tanah dapat tumbuh di media dengan E.Coli tadi tapi pada percobaan kami setelah dilihat di mikroskop kami tidak melihat adanya protozoa, hal ini mungkin karena protozoa tidak dapat tumbuh pada media tersebut atau mungkin karena kami tidak mendapatkan koloni protozoa pada saat pengambilan preparat. Jika protozoa dapat dilihat di mikroskop maka pada protozoa tersebut terdapat flagel yang berguna untuk mempertahankan hidupnya. Bentuk maupun jenis protozoa dapat diidentifikasikan setelah diamati dibawah mikroskop. Ada banyak protozoa yang terdapat didalam tanah. Protozoa bisa dikatakan sebagai musuh bakteri karena protozoa mengkonsumsi bakteri.
Pada percobaan ekstraksi protozoa dari tanah dengan metode migrasi pada agar kita membuat goresan bakteri yaitu E coli pada Nutrisi Agar. Selain itu kita pula meneteskan suspensi tanah pada sisi lain plat agar. Pada cara penggoresan untuk mencegah kontaminasi perlu di lakukan berbagai tindakan. Pertama, jika mengambil agar yang telah cair dari penangas air, hapus bagian luar tabung dengan lap kain. Jika hal ini tidak di lakukan maka air akan jatuh ke dalam cawan dan membawa kontaminan. Selanjutnya, jika membuka tutup kapas untuk menuangkan agar, lewatkan mulut tabung reaksi di atas api untuk membunuh mikroba yang ada di permukaanya.
Tujuan utama dari penggoresan cawan adalah untuk menghasilkan koloni- koloni bakteri yang terpisah dengan baik  dari suspensi sel pekat. Selama inokulasi kumpulan- kumpulan sel pada permulaan penggoresan akan membentuk koloni yang berjalan bersamaan, tetapi setelah goresan berlangsung lebih jauh maka sel- sel yang tertinggal dalam tetesan- tetesan yang terbawa oleh jarum makin sedikit. Jika sel- sel yang makin sedikit itu tumbuh pada permukaan media maka akan di hasilkan koloni- koloni yang terpisah dengan baik.

V.      KESIMPULAN

1.      Protozoa ini mengonsumsi bakteri, berkembang biak dan bermigrasi pada selapis air (film) di atas permukaan agar.  Film ini akan terbentuk tempat yang jauh dari tempat inokulasi awal. 
2.      Protozoa memiliki berbagai macam spesies yang berbeda, diantaranya; flagellata, cilciata dan amoeba.
3.      Beberapa protozoa tanah berukuran kecil, khususnya amoeba dan flagelata, dan dapat diisolasi pada permukaan agar.
4.      Untuk organisme tanah, sebaiknya digunakan goresan tanah di atas media selain nutrient agar.